Pacaran bukanlah jalan yang benar untuk mencari kebahagiaan atau mendapatkan perhatian, apalagi atas dasar iseng atau hanya sekedar rasa ingin tahu… Jangan lakukan itu! (X)
Pacaran merupakan langkah yang salah dalam merencanakan awal masa depan rumah tanggamu... (X)
Komposisi Mudharat Pacaran:
1. Content-nya tidak nyata (palsu, semu, bias, bohong/dusta, pertengkaran, dan seterusnya, ..., ...,...)
2. Pasti...!!! Menjalani: Zina Mata, Zina Kulit/Tangan/Kaki, Zina Lisan/Mulut, Zina Telinga & Zina Hati...
(Berdosa mendekati Zina, maka jangan sekali-kali mendekati Zina),
Allah berfirman, yang artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang).” [QS.Al-Israa, Ayat:32]
3. Berpotensi terjadi Zina sesungguhnya/Zina Kemaluan
(Dosa besar & akan merusak masa depanmu)
4. Hamil diluar Nikah
(Dosa besar, merusak Nasab/Keturunan manusia)
5. Menggugurkan kandungan
(Dosa besar, membunuh jiwa yang tidak berdosa)
Ingat!!!... satu dosa dapat terjadi secara berangkaian kepada dosa-dosa berikutnya…
Nah, lalu apa yang harus kamu lakukan?
Perbaiki dirimu dalam semua hal kearah yang lebih baik karena sesungguhnya Allah Maha Adil..., Karena:
* Laki-laki/Perempuan yang baik, InsyaAllah untuk Perempuan/Laki-laki yang baik, sebaliknya
# Laki-laki/Perempuan yang buruk (Keji/Pezina/Musyrik), juga untuk Perempuan/Laki-laki yang buruk (Keji/Pezina/Musyrik)
Dasarnya adalah Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nur (Surat ke 24), Ayat 3 & ayat 26:
(1). QS 24, ayat 3:
“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.”
(2). QS 24, ayat 26:
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula),....................”
Dosa bagi pelaku zina: Rosulullohi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam di dalam Hadits Baihaqi, yang artinya: “Hai golongan orang-orang Islam, takutlah kamu sekalian kepada perbuatan zina, karena sesungguhnya akibat melakukan zina itu ada enam perkara, tiga perkara (akan diterima) di dunia, dan yang tiga perkara lagi (akan diterima) di akhirat.
Adapun tiga perkara yang akan ia terima di dunia, adalah;
1). Hilang kewibawaannya,
2). Umurnya pendek.
3). Fakir selamanya.
Sedangkan tiga perkara yang akan ia terima di akhirat kelak, adalah;
1). Mendapat murka Allah,
2). Hisaban amal yang buruk,
3). Azab akhirot (neraka)”
.
1.) di Dunia: Cambuk 100 kali bagi pezina yang belum menikah (ghairu Muhshon) lalu diasingkan selama setahun. Bagi pezina Muhshon (yang sudah menikah) di cambuk 100 kali lalu di Rajam sampai mati.
2.) di Alam kubur: Allah akan meletakkannya di dalam kubur dengan penuh kehausan menangis, dan sedih.
Wajahnya akan dihitamkan seperti gelap gulita. Di tengkuknya akan digantung dengan ikatan rantai dari neraka. Dia akan dipakaikan dengan baju dari api neraka pada tubuhnya.
3.) di Akhirat: Siksa yang lebih berat dan keras dilipatgandakan telah menanti pelaku zina.
Bagaimana bagi anak-anak kami para remaja yang telah atau terjerumus pacaran?
a.) Bertobatlah dengan sebenar-benarnya tobat dengan meninggalkan, mengakui kesalahan & menyesali perbuatan tersebut serta bertekad/berjanji untuk tidak mengulangi dosanya.
b.) Bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dalam semua hal kearah yang lebih baik.
c.) Sesungguhnya Allah menerima orang-orang yang bertobat dan mensucikan diri.
_____________________JANJI ALLAH ADALAH PASTI_________________________
Pahamilah... InsyaAllah informasi dakwah ini baik untuk masa depanmu!
Sangat banyak aktifitas yang dapat kamu lakukan untuk meraih masa depanmu:
1st : Rajinlah belajar/menuntut ilmu (terutama Ilmu Agama Islam)
2nd : Kembangkan potensi dirimu yang positif & teruslah berkarya
3rd : dan... Gapailah cita-citamu karena Agama dan Bangsa menunggu karyamu…
So..,jadi siapa yang bilang pacaran haram atau gak boleh?
Jawab: Agama Islam yang tidak membolehkan atau mengharamkan berpacaran.
Maka....
Wahai Pemuda Pemudi ISLAM….. Jauhilah Pacaran!
Supported by: ALHARTindo Utama Perkasa
Senin, 18 Agustus 2014
Selasa, 05 Agustus 2014
Hanya Ridho Allah yang Kita cari
"Hanya Ridho Allah yang Kita cari, dan hanya murka-Nya yang kita Takuti".
Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., MA.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan dari Allah (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridho kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridho kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhoan dari manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya no.276 (I/497), dari Aisyah. Syuaib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya Hasan”).
Di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan keridhoan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (Shahih. HR. Ibnu Hibban no.277 (I/510), dari Aisyah. Dan dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no.6010).
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:
1) Wajib bagi setiap muslim mencari ridho Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan yang ia lakukan, meskipun manusia membencinya. Hal ini dikarenakan hanya Allah satu-satunya Dzat yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan, dan mencegah mudharat dan keburukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang beramal demi mencari keridhoan Allah meskipun manusia membencinya, maka sungguh ia telah bertakwa kepada-Nya, dan ia adalah hamba-Nya yang sholih, dan Allah senantiasa mencintai dan menolong hamba-hamba-Nya yang sholih."
2) Diharamkan bagi setiap muslim melakukan suatu perbuatan yang dibenci dan dimurkai Allah, apalagi jika ia melakukannya dengan niat dan tujuan mencari kecintaan dan keridhoan manusia.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "Barangsiapa telah jelas baginya bahwa setiap makhluk (manusia) yg ada di muka bumi adalah makhluk (ciptaan Allah). Maka bagaimana mungkin ia lebih mendahulukan ketaatan kepada makhluk daripada ketaatannya kepada (Allah) Tuhannya segala tuhan. Sungguh yang demikian ini adalah sesuatu yang mengherankan. (Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamiid hal.436).
3) Mencari keridhoan dan kecintaan manusia dalam setiap urusan adalah tujuan yg mustahil tercapai. Oleh karena itu, hendaknya kita berkata dan beramal hanya mengharapkan keridhoan dan balasan dari Allah semata. Tidak mengharapkan sesuatu apapun dari manusia baik berupa pujian, imbalan, popularitas dan ketenaran maupun lainnya.
Hal ini sebagaimana yang bisa kita petik dari do’a salah seorang istri Fir’aun dalam al-Qur’an yang tetap teguh pada keyakinan dan keimanannya kepada Allah. Ia berdo’a agar dibangunkan untuknya “baitan fil jannah” (rumah di dalam surga), bukan “baitan fil ardhi (rumah di muka bumi)” ataukah “prasasti di bumi yang dikenang orang lain”. Dia hanya berharap pada Allah, diselamatkan jiwa, dan keyakinannya dari virus-virus orang zhalim dan kafir. Allah ta’ala berfirman:
“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam (surga) Firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahriim: 11)
Allah ta'ala berfirman pula:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan: 9)
4) Keridhoan dan kebencian manusia bergantung pada keridhoan dan kebencian Allah. Jika Allah meridhoi dan mencintai seorang hamba, maka Dia akan menjadikan para makhluk seperti malaikat dan manusia meridhoi dan mencintainya. Demikian pula sebaliknya.
Hal ini dikarenakan hati para hamba berada diantara 2 jari dari jari-jemari Allah. Dia membolak-balikkan hati mereka kapan saja Dia kehendaki. Sebagaimana dikabarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits beliau.
Dan dikabarkan di dalam hadits, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda (idza ahabballahu 'abdan naadaa Jibriila, faqoola, ya Jibriilu, inni uhibbu fulaanan fa ahibbahu, fa yuhibbuhu Jibriilu...)
Artinya: "Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata; "wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai hamba-Ku si fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril berkumandang (di langit); sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya si fulan, maka cintailah ia. Maka para malaikat penghuni langit mencintainya. Lalu diletakkan rasa ridho (kpd hamba tersebut) di muka bumi."
5) Penetapan sifat ridho dan benci bagi Allah ta'ala sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan, menyamakan dan menggambarkan sifat Allah sebagaimana sifat makhluk, dan tanpa menyelewengkan maknanya.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala:
"Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syuura: 11).
Maka dari itu, perbuatan-perbuatan baik apapun yang kita lakukan, baik yang hukumnya wajib, sunnah maupun mubah, hendaknya diniatkan semata-mata karena mengharap keridhoan dan balasan dari Allah ta’ala.
Jangan sampai kita melakukan suatu amalan dengan niat dan tujuan supaya dikenang dan dipuji oleh manusia karena akan menyebabkan kebinasaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan imam Muslim di dalam kitab Shahihnya (no.1905) tentang golongan manusia yang pertama kali diadili oleh Allah dan dicampakkan ke dalam api neraka pada hari kiamat, dan mereka adalah orang yang berjihad di jalan Allah, menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, dan orang yang bersedekah, namun mereka mengerjakan ibadah-ibadah yang agung tersebut tanpa ikhlas karena Allah.
Demikian pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan dari dua hadits ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi at-taufiq.
http://www.salamdakwah.com/m/baca-artikel/hanya-ridho-allah-yang-kita-cari.html#.U-COW0CDEwo
Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., MA.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan dari Allah (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridho kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridho kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhoan dari manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya no.276 (I/497), dari Aisyah. Syuaib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya Hasan”).
Di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan keridhoan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (Shahih. HR. Ibnu Hibban no.277 (I/510), dari Aisyah. Dan dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no.6010).
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:
1) Wajib bagi setiap muslim mencari ridho Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan yang ia lakukan, meskipun manusia membencinya. Hal ini dikarenakan hanya Allah satu-satunya Dzat yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan, dan mencegah mudharat dan keburukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang beramal demi mencari keridhoan Allah meskipun manusia membencinya, maka sungguh ia telah bertakwa kepada-Nya, dan ia adalah hamba-Nya yang sholih, dan Allah senantiasa mencintai dan menolong hamba-hamba-Nya yang sholih."
2) Diharamkan bagi setiap muslim melakukan suatu perbuatan yang dibenci dan dimurkai Allah, apalagi jika ia melakukannya dengan niat dan tujuan mencari kecintaan dan keridhoan manusia.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "Barangsiapa telah jelas baginya bahwa setiap makhluk (manusia) yg ada di muka bumi adalah makhluk (ciptaan Allah). Maka bagaimana mungkin ia lebih mendahulukan ketaatan kepada makhluk daripada ketaatannya kepada (Allah) Tuhannya segala tuhan. Sungguh yang demikian ini adalah sesuatu yang mengherankan. (Lihat Taisir Al-Aziz Al-Hamiid hal.436).
3) Mencari keridhoan dan kecintaan manusia dalam setiap urusan adalah tujuan yg mustahil tercapai. Oleh karena itu, hendaknya kita berkata dan beramal hanya mengharapkan keridhoan dan balasan dari Allah semata. Tidak mengharapkan sesuatu apapun dari manusia baik berupa pujian, imbalan, popularitas dan ketenaran maupun lainnya.
Hal ini sebagaimana yang bisa kita petik dari do’a salah seorang istri Fir’aun dalam al-Qur’an yang tetap teguh pada keyakinan dan keimanannya kepada Allah. Ia berdo’a agar dibangunkan untuknya “baitan fil jannah” (rumah di dalam surga), bukan “baitan fil ardhi (rumah di muka bumi)” ataukah “prasasti di bumi yang dikenang orang lain”. Dia hanya berharap pada Allah, diselamatkan jiwa, dan keyakinannya dari virus-virus orang zhalim dan kafir. Allah ta’ala berfirman:
“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam (surga) Firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahriim: 11)
Allah ta'ala berfirman pula:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan: 9)
4) Keridhoan dan kebencian manusia bergantung pada keridhoan dan kebencian Allah. Jika Allah meridhoi dan mencintai seorang hamba, maka Dia akan menjadikan para makhluk seperti malaikat dan manusia meridhoi dan mencintainya. Demikian pula sebaliknya.
Hal ini dikarenakan hati para hamba berada diantara 2 jari dari jari-jemari Allah. Dia membolak-balikkan hati mereka kapan saja Dia kehendaki. Sebagaimana dikabarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits beliau.
Dan dikabarkan di dalam hadits, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda (idza ahabballahu 'abdan naadaa Jibriila, faqoola, ya Jibriilu, inni uhibbu fulaanan fa ahibbahu, fa yuhibbuhu Jibriilu...)
Artinya: "Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata; "wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai hamba-Ku si fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril berkumandang (di langit); sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya si fulan, maka cintailah ia. Maka para malaikat penghuni langit mencintainya. Lalu diletakkan rasa ridho (kpd hamba tersebut) di muka bumi."
5) Penetapan sifat ridho dan benci bagi Allah ta'ala sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan, menyamakan dan menggambarkan sifat Allah sebagaimana sifat makhluk, dan tanpa menyelewengkan maknanya.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala:
"Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syuura: 11).
Maka dari itu, perbuatan-perbuatan baik apapun yang kita lakukan, baik yang hukumnya wajib, sunnah maupun mubah, hendaknya diniatkan semata-mata karena mengharap keridhoan dan balasan dari Allah ta’ala.
Jangan sampai kita melakukan suatu amalan dengan niat dan tujuan supaya dikenang dan dipuji oleh manusia karena akan menyebabkan kebinasaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang diriwayatkan imam Muslim di dalam kitab Shahihnya (no.1905) tentang golongan manusia yang pertama kali diadili oleh Allah dan dicampakkan ke dalam api neraka pada hari kiamat, dan mereka adalah orang yang berjihad di jalan Allah, menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, dan orang yang bersedekah, namun mereka mengerjakan ibadah-ibadah yang agung tersebut tanpa ikhlas karena Allah.
Demikian pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan dari dua hadits ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi at-taufiq.
http://www.salamdakwah.com/m/baca-artikel/hanya-ridho-allah-yang-kita-cari.html#.U-COW0CDEwo
Pahala dengan Berbagi
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).
Langganan:
Postingan (Atom)