Semoga bermanfaat bagi saudara kita yang akan dan sedang mengemban amanah suatu jabatan....
Sudah dikatakan bahwa jabatan (tahta) itu fitnah bersamaan dengan harta dan wanita. Fitnah bermakna ujian dan cobaan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, dengan diberi kenikmatan ataupun ditimpa musibah.
Berkah secara sederhana berarti kebaikan yang bertahan, sementara jabatan seperti indah diawal namun dalam tahun berjalan akan terlihat mana yang teman dan mana yang lawan, mana yang loyal mana pengkhianat. Jadi jabatan (tahta) kebanyakan tidak membawa kepada keberkahan.
Seperti apa keberkahan yang didapatkan diawal, selama dan sampai akhir jabatan? Seperti yang dicontohkan para Khalifah yang empat, atau kisah Nabi Yusuf ketika keluar dari penjara yang diminta untuk menduduki suatu jabatan terhormat di Kerajaan atau teladan dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang sangat amanah dalam mengemban jabatan...
1. Niat.
Niat yang benar-benar ikhlas karena Allah untuk melayani dan membawa kemaslahatan untuk umat/masyarakat (orang banyak) karena hakikat jabatan adalah melayani. Sesuai makna bahwa tahta dalam bahasa arab berarti dibawah, maka jabatan adalah turun ke bawah melayani rakyat/bawahan.
Jabatan bukanlah untuk mencari popularitas, pujian atau penghargaan dari manusia, apalagi jika jabatan tersebut dipergunakan untuk memperkaya diri dengan jalan yang haram.
2. Tidak meminta jabatan.
Hal yang umum terjadi pada akhir zaman yang penuh fitnah ini adalah mayoritas orang mempromosikan diri, mengkampanyekan diri penuh pencitraan untuk meminta jabatan. Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada saya, “Hai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan karena apabila kamu diberi jabatan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong dalam melaksanakannya dan apabila kamu diberi karena meminta maka pelaksanaan jabatan itu sepenuhnya diberikan kepadamu.” (HR. Muslim).
Namun, jika kita diminta untuk memikul suatu jabatan atas kepercayaan/rekomendasi dari orang banyak, maka hal ini dibolehkan untuk memikulnya karena jika tidak diambil maka jabatan tersebut dikhawatirkan akan jatuh kepada orang yang tidak amanat.
3. Berkompeten.
Istilah yang sering kita dengar : the right man in the right place/track, jika suatu keahlian jabatan atau posisi tertentu dipegang oleh orang yang bukan ahlinya, maka apa yang akan terjadi? Tunggulah kehancurannya!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan berambisi merebut jabatan, dan nanti pada hari kiamat jabatan-jabatan itu akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari).
Maka, berhati-hatilah dengan fitnah dunia yang bernama jabatan atau tahta, yang mana jika salah dalam mengembannya, maka dapat membawa penyesalan dan kerugian pada hari kemudian.
Wallahu'alam.....
Sudah dikatakan bahwa jabatan (tahta) itu fitnah bersamaan dengan harta dan wanita. Fitnah bermakna ujian dan cobaan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, dengan diberi kenikmatan ataupun ditimpa musibah.
Berkah secara sederhana berarti kebaikan yang bertahan, sementara jabatan seperti indah diawal namun dalam tahun berjalan akan terlihat mana yang teman dan mana yang lawan, mana yang loyal mana pengkhianat. Jadi jabatan (tahta) kebanyakan tidak membawa kepada keberkahan.
Seperti apa keberkahan yang didapatkan diawal, selama dan sampai akhir jabatan? Seperti yang dicontohkan para Khalifah yang empat, atau kisah Nabi Yusuf ketika keluar dari penjara yang diminta untuk menduduki suatu jabatan terhormat di Kerajaan atau teladan dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang sangat amanah dalam mengemban jabatan...
1. Niat.
Niat yang benar-benar ikhlas karena Allah untuk melayani dan membawa kemaslahatan untuk umat/masyarakat (orang banyak) karena hakikat jabatan adalah melayani. Sesuai makna bahwa tahta dalam bahasa arab berarti dibawah, maka jabatan adalah turun ke bawah melayani rakyat/bawahan.
Jabatan bukanlah untuk mencari popularitas, pujian atau penghargaan dari manusia, apalagi jika jabatan tersebut dipergunakan untuk memperkaya diri dengan jalan yang haram.
2. Tidak meminta jabatan.
Hal yang umum terjadi pada akhir zaman yang penuh fitnah ini adalah mayoritas orang mempromosikan diri, mengkampanyekan diri penuh pencitraan untuk meminta jabatan. Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada saya, “Hai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan karena apabila kamu diberi jabatan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong dalam melaksanakannya dan apabila kamu diberi karena meminta maka pelaksanaan jabatan itu sepenuhnya diberikan kepadamu.” (HR. Muslim).
Namun, jika kita diminta untuk memikul suatu jabatan atas kepercayaan/rekomendasi dari orang banyak, maka hal ini dibolehkan untuk memikulnya karena jika tidak diambil maka jabatan tersebut dikhawatirkan akan jatuh kepada orang yang tidak amanat.
3. Berkompeten.
Istilah yang sering kita dengar : the right man in the right place/track, jika suatu keahlian jabatan atau posisi tertentu dipegang oleh orang yang bukan ahlinya, maka apa yang akan terjadi? Tunggulah kehancurannya!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan berambisi merebut jabatan, dan nanti pada hari kiamat jabatan-jabatan itu akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari).
Maka, berhati-hatilah dengan fitnah dunia yang bernama jabatan atau tahta, yang mana jika salah dalam mengembannya, maka dapat membawa penyesalan dan kerugian pada hari kemudian.
Wallahu'alam.....