Renungan Perjalanan Kehidupan....
Berangkat dari pertanyaan sederhana, apa beda guru di zaman dulu dengan guru hari ini?
Jika status? mungkin sama - sama PNS,
pengabdian? sama - sama sudah puluhan tahun menjadi abdi negara👍👍
Mungkin ini hanyalah generalisasi dari banyak pengalaman yang ditemui, namun guru pada zaman dulu umumnya hidup dengan kesederhanaan, dengan gaji pas-pasan dan sedikit tunjangan untuk keluarga, mereka menikmati kebahagian, kebanyakan dari mereka juga dikaruniai anak yang banyak tapi mampu dihidupi dengan khidmat dan banyak yang "jadi orang" sukses meraih masa depan.
Zaman dulu, guru tidak mendapatkan yang namanya sertifikasi, tunjangan kehormatan, remun/tukin ataupun insentif lainnya dengan begitu banyak nama ataupun istilah yang ada pada hari ini. Meskipun demikian, para guru-guru kita yang mulia pada zaman dulu, justru banyak yang hidup dengan tidak berutang.
Guru hari ini dengan kondisi sebaliknya, diluar gaji dan tunjangan keluarga, ada insentif yang beraneka ragam bentuk dan nominalnya, anak bahkan hanya 1-2 orang, namun mereka dalam menjalani kehidupan sering merasa kekurangan, tidak merasa cukup dengan nikmat yang ada dan hidup dililit oleh utang, bahkan sangat banyak yang terjerat kedalam perangkap Riba, suatu perkara yang sangat dilaknat dan dimurkai oleh Allah.
Pertanyaannya, apa yang hilang?
Apakah keberkahan yang sudah tidak ada lagi?
Wallahu'alam....
Berangkat dari pertanyaan sederhana, apa beda guru di zaman dulu dengan guru hari ini?
Jika status? mungkin sama - sama PNS,
pengabdian? sama - sama sudah puluhan tahun menjadi abdi negara👍👍
Mungkin ini hanyalah generalisasi dari banyak pengalaman yang ditemui, namun guru pada zaman dulu umumnya hidup dengan kesederhanaan, dengan gaji pas-pasan dan sedikit tunjangan untuk keluarga, mereka menikmati kebahagian, kebanyakan dari mereka juga dikaruniai anak yang banyak tapi mampu dihidupi dengan khidmat dan banyak yang "jadi orang" sukses meraih masa depan.
Zaman dulu, guru tidak mendapatkan yang namanya sertifikasi, tunjangan kehormatan, remun/tukin ataupun insentif lainnya dengan begitu banyak nama ataupun istilah yang ada pada hari ini. Meskipun demikian, para guru-guru kita yang mulia pada zaman dulu, justru banyak yang hidup dengan tidak berutang.
Guru hari ini dengan kondisi sebaliknya, diluar gaji dan tunjangan keluarga, ada insentif yang beraneka ragam bentuk dan nominalnya, anak bahkan hanya 1-2 orang, namun mereka dalam menjalani kehidupan sering merasa kekurangan, tidak merasa cukup dengan nikmat yang ada dan hidup dililit oleh utang, bahkan sangat banyak yang terjerat kedalam perangkap Riba, suatu perkara yang sangat dilaknat dan dimurkai oleh Allah.
Pertanyaannya, apa yang hilang?
Apakah keberkahan yang sudah tidak ada lagi?
Wallahu'alam....