Minggu, 05 Desember 2010

Shalahuddin Al Ayyubi, Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran (1137 ­ 1193 M)


Hudzaifah.org ­SULTAN SALAHUDDIN AL­AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.
Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak
dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang
mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap
ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui "Siratun Nabawiyah". Hingga kini peringatan
itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.
Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti
yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan
buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan
kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard
Lionheart dari Inggris.
Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu­gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.
Seorang penulis Barat berkata, "Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat
kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus
tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan
keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila
bukan kehancuran total. Berjuta­juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan,
penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka
tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh
Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin".
"Setiap cara dan jalan ditempuh", kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.
Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah
mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan
kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan
segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib
itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah­daerah yang tandus.
"Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan­kejahatan dan kebuasan­kebuasan yang
membuat alam semesta menggeletar" demikian tulis pengarang Perancis Michaud.
Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri
dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan
mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk­mabukan. Mereka melupakan
Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila­gilaan dan perampokan, pengrusakan dan
pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui" kata Marbaid.
Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill "terdiri
dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya
menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara
Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila­gilaan tentara Salib sebelumnya.
Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan­kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.
John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan­pembunuhan massal penduduk Muslim ini
pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: "Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak­anak dan kelemahan
kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai
tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan
kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota­kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan
membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk "Kutub Khanah"
(Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. "Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan
tenaga," kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang
tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.
Lewat pertengahan abad ke­12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman,
Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci
Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin),
seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk
maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang
dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup
menerima tantangan dari Nasrani Eropa.
Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?
Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang
namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al­Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga
memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua­
duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.
Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah
memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167
Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri
dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari
Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud
memperlihatkan kehebatan strategi tentara
yang bernilai ringgi.
Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: "Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda".
Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan
Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil
perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.
Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al­Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama
ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat­sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah
berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.
Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh
putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang
mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan
menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu
dalam khotbah­khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat
tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang
meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin
Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.
Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus
diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia
untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan
amarah Shalahuddin al­Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali
kota itu.
Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan
bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan
mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau
memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi,
kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja­raja di Asia Barat.
Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli
sejarah Perancis Michaud: "Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi
isyarat untuk memulai lagi peperangan." Berlawanan dengan syarat­syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani
Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh
sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.
Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan
Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta
menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara
Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam
waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk
kota­kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki
Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat­syarat yang sangat ringan oleh
Sultan yang berhati mulia itu.
Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib
dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan
pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam
memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan
perlakuan dan pembunuhan secara besar­besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib
sekitar satu abad sebelumnya.
Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi,
kaum Muslimin dibunuh secara besar­besaran di jalan­jalan raya dan di rumah­rumah kediaman. Jerusalem tidak
memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari
cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok­tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara­
menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara
Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl
lagi tindakan­tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari
tunggang langgang. Di tengah­tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan
teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak­injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar
mereka yang masih berusaha dengan sia­sia melarikan diri. Raymond d' Angiles yang menyaksikan peristiwa itu
mengatakan bahwa
di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda
prajurit.
Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur
atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan
keganasan.
Semua tawanan kata Michaud,yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang
semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa
ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup­
hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat
perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat.
Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak­anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana
Nabi lsa memaafkan algojo­algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu.
Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari
pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.
Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula:Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi
ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat­tempat umum untuk dibunuh hidup­hidup.
Ibu­ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak­anak laki­laki dan perempuan, seluruhnya
disembelih. Lapangan­Iapangan kota, jalan­jalan raya, bahkan pelosok­pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi
oleh bangkai­bangkai mayat laki­laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak­anak. Tiada hati yang menaruh belas

SALAHUDDIN AL-AYYUBI

Salahuddin Al-Ayyubi adalah seorang pahlawan dan raja yang gagah berani. Beliau terkenal dengan kewarakan dan keberanian yang luar biasa sehingga berjaya mengalahkan tentera Salib yang memang terkenal dengan kezaliman dan keperkasaannya.
Beliau dilahirkan pada tahun 1138M. Ayahnya keturunan Kurdistan. Salahuddin telah berjinak-jinak dengan peperangan apabila telah meningkat dewasa. Beliau sempat berperang di Mesir bersama dengan Shirkuh, bapa saudaranya di bawah panji Kerajaan Fatimiyyah.
Pada tahun 1169, Shirkuh telah dilantik sebagai wazir (menteri) di bawah naungan Kerajaan Fatimiyyah. Kemudian Salahuddin telah dilantik sebagai wazir apabila bapa saudaranya meninggal dunia. Beliau telah berjaya memadamkan pemberontakan dalam negeri dan turut berjaya menumpaskan serangan pihak Frank dan Byzantine yang cuba hendak menakluk Kaherah.
Akhirnya beliau menjadi Raja Mesir pada tahun 1175 mengantikan raja terakhir dari dinasti Fatimiyyah yang mangkat dan diiktiraf oleh Khalifah di Baghdad sebagai pemerintah Mesir yang sah setahun kemudian. Beliau memakai gelaran Sultan Al-Malikun Nasir.
Pada tahun 1187 berlakulah Perang Salib di antara tentera Islam yang dipimpin oleh Salahuddin Al-Ayyubi dengan tentera Kristian yang diketuai oleh King Richard (Raja England) setelah beberapa tindakan provokasi yang dilakukan oleh pihak Kristian. Mereka bukan sahaja mengancam negara-negara Islam, malah telah merampas beberapa wilayah umat Islam di Baitul Muqaddis dan dijadikan negeri-negeri Kristian.
Dalam peperangan tersebut, tentera Islam telah berjaya merampas Baitul Muqaddis dan 10,000 tentara Salib terkorban. Di sini Salahuddin Al-Ayyubi telah menunjukkan ketinggian budi dengan tidak membalas perbuatan tentera Salib yang zalim semasa menawan Baitul Muqaddis dan negeri-negeri yang dilalui. Beliau telah memberi perlindungan kepada semua tawanan perang, perempuan, orang tua dan anak-anak tentera Salib dan memberi mereka tempoh 40 hari untuk meninggalkan Baitul Muqaddis.
Akhirnya seluruh tanah Palestin dapat ditawan semula. Walau bagaimanapun, orang-orang Kristian dibenarkan mengunjungi Baitul Muqaddis melalui satu perjanjian damai yang ditandatangani pada 1192.
 

Keperibadian
Pada suatu hari, ketika Sultan Salahuddin berjalan-jalan di kota Baitul Muqaddis, beliau telah berjumpa dengan seorang lelaki tua Nasrani (Kristian). Lalu lelaki tua tersebut bertanya kepada beliau : "Wahai pahlawan agung ! Sesungguhnya tuan telah berjaya mengalahkan musuh-musuh tuan. Tetapi mengapakah tuan tidak membalas seperti tindakan yang dikenakan ke atas tentera-tentera tuan ?"
Jawab Salahuddin : "Wahai orang tua ! Agama kami melarang menyiksa manusia. Bahkan hati kecil sayapun melarang melakukan pembalasan yang luar batas perikemanusiaan seperti yang pernah mereka lakukan"
Orang tua itu berkata lagi : "Apakah agama tuan melarang melakukan pembalasan terhadap orang yang memulakan pemusuhan dan menyiksa kaum tuan"
Jawab Salahuddin seterusnya : "Memang benar ! Agama yang saya anuti ini melarang perbuatan kejam seperti yang dilakukan oleh musuh-musuh kami. "
Tambah beliau : "Islam meyuruh kami menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain dan melupakan kekejaman pihak musuh ketika mereka berkuasa "
Orang tua itu berkata lagi : "Alangkah indahnya agama tuan !" Saya sangat ingin agar sisa-sisa hidup saya ini dapat menikmati kehidupan yang bahagia". "Apakah yang patut saya lakukan untuk memeluk agama tuan yang mulia ini "
Jawab Salahuddin seterusnya : "Mempercayai bahawa Allah itu Maha Esa dan Muhammad itu RasulNya. Kemudian kerjakan apa yang Allah perintahkan dan tinggalkan apa yang dilarangNya".
Setelah itu, lelaki itu terus mengucap dua kalimah syahadah tanpa berbelah bahagia……

disadur dari http://tayibah.com/eIslam/Tokoh/salahuddin.htm 

My Family

Semoga keluarga kita selalu dalam lindunganNYA

.............................

......................

.............................

..............................

...........................

...........................

..........................

.............................